Langsung ke konten utama

Pacaran? Awas, Itu Hamartia!

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hamartia : a fatal flaw leading to the downfall of a tragic hero or heroine. Oxford Dictionaries

Sebelumnya, kalimat ini saya temukan saat bermain Mental Omega.

Langsung ke topik. Di sini, saya akan membahas tentang kesalahan. Lah, kesalahan mulu. Tunggu bentar, kita bicara kesalahan fatal. Kali ini saya akan kembali mencoba mengambil sebuah tema yang berulang kali dibahas yaitu pacaran.

Jikalau kita berbicara tentang pacaran dan kesalahan fatal, saya lebih membicarakan konsekuensi. Dunia ini semuanya berjalan dengan konsekuensi, termasuk di dalamnya adalah pacaran. Banyak manusia yang suka bermain dengan konsekuensi, hingga akhirnya jatuh sejatuh-jatuhnya.

Saya tidak akan membicarakan dari sisi agama, karena sepertinya manusia akan sangat bebal dengan hal itu. Saya hanya akan membahas dari aspek sosial negeri kita tercinta, Indonesia. Di Indonesia, mereka yang berbuat (maaf) zina, cenderung mendapatkan sanksi secara sosial, baik penghinaan maupun pengucilan. Maka dari itu, adalah sebuah hal penting untuk menjauh dari pacaran yang menyimpan hamartia untuk kehidupan di masa depan.

Ada potongan kata yang saya cukup sukai juga, yaitu you'll only regret it. Kau hanya akan menyesalinya. Karena setelah kesalahan fatal terjadi, maka kau akan jatuh, sejatuh-jatuhnya. Mungkin kau bisa bangkit. Mungkin kau bisa terlihat tangguh. Tapi, pada kenyataannya, setelah sebuah hamartia terjadi, kita hancur, sehancur-hancurnya.

Sebagai penutup, saya tahu hamartia lebih berkesan kepada 'mati' secara fisik, tapi menurut saya hal ini juga bisa dikatakan sebagai hamartia. Kesalahan seperti ini sangat fatal hingga kita membayarnya dengan sebuah hal yang dikenal dengan sebutan 'masa depan'.

Sekian dari saya.

-Muhammad Daffa Abiyyu Rahman-

CATATAN PENTING :
  • Tulisan ini adalah opini pribadi, terlepas dari segala relasi penulis dengan semua orang yang dikenalnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Sekarang?

Years ago, I seek it. Dulu, aku berjuang untuk bisa melewati batas teman, trying to be someone that you consider as dearest. Yes, that's back then. As I said, had it been years ago, I would have straight out say YES out of sheer dumbness, or tenacity, or both. Tabun. I used to be full of desire to get you to acknowledge me, then. Sungguh lucu sekali, I would circumvent and try to just get any chance to meet with you. Aku menginginkan lebih, dulu. But no, it has always been someone else. Someone else get to be your priority, your attention. Berharap lebih adalah kesalahanku, dan aku selalu menganggapnya demikian. Why chase over the skies you cannot reach? I almost burned the entire bridge, truly. Only one more step and I know the entire relationship will turn into nothing more than smoldering ashes in the seas of lost time. You know, had you not talk to me within the short time of me settling my almost 9-years long illusion, perhaps the bridge had been burned completely, as I had wi...

Preparing Anaconda with Tensorflow [ACTUALLY WORKED FOR ME 2024]

Make sure to follow this with perfect order: 1. conda create -n tf_gpu tensorflow-gpu 2. conda activate tf_gpu 3. pip install numpy==1.23.4 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 4. pip install tensorflow-gpu==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 5. pip install tensorflow==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] (You may skip the first two test, but it helps ensure your environment is set up right)   TRIVIA: - There's no 2.11 version of Tensorflow GPU on pip as shown below: ERROR: Could not find a version that satisfies the requirement tensorflow-gpu==2.11 (from versions: 2.5.0, 2.5.1, 2.5.2, 2.5.3, 2.6.0, 2.6.1, 2.6.2, 2.6.3, 2.6.4, 2.6.5, 2.7.0rc0, 2.7.0rc1, 2.7.0, 2.7.1, 2.7.2, 2.7.3, 2.7.4, 2.8.0rc0, 2.8.0rc1, 2.8.0, 2.8.1, 2.8.2, 2.8.3, 2.8.4, 2.9.0rc0, 2.9.0rc1, 2.9.0rc2, 2.9.0, 2.9.1, 2.9.2, 2.9.3, 2.10.0rc0, 2.10.0rc1, 2.10.0rc2, 2.10.0rc3, 2.1...

Prof Ashari, Tangan Dingin Sang Rektor Visioner

Tulisan ini dipersembahkan kepada Prof  Dr Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, IPU,  AEng. yang merupakan rektor ke-12 ITS, periode 2019-2024. Seluruh tulisan ini berupa pandangan saya pribadi, sebagai ucapan terima kasih, meski disajikan seakan penuh kritikan pada bagian awalnya. Pertama saya mengenal nama ini, saya ingat dari salah satu dosen saya sewaktu saya masih menempuh sarjana. Saya lupa persis kapan, tetapi saya diperkenalkan tentang bagaimana visionernya Prof Ashari dan sedikit cuplikan peran beliau membangun Telkom University di Bandung. Ya, sebelum beliau dinobatkan sebagai rektor, saya berpikir bahwa 'apabila beliau jadi, sepertinya akan berpotensi revolusioner, atau bakal agak ekstrem dalam kebijakan'. Bagi saya, itu cukup menarik, tetapi ada ketakutan di benak saya dengan potensi ekstrem kebijakan beliau. Kala beliau dinobatkan sebagai rektor terpilih, Prof Ashari langsung bergerak cepat yang tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat langkah beliau. Saya masih ingat, d...