Langsung ke konten utama

Badai di Masa Lalu

Sebenarnya, aku ingin relasi asmara tidak terdiam dalam putaran tanpa arah bernama teman tetapi berharap lebih. Sayangnya, aku sendiri masih belum mampu maju dari derita di masa lalu.

Masih ada sisa rasa untuk seseorang yang menghambatku untuk berjalan maju. Dilematika yang terus menghantui, dengan pertemuan yang terus tertolak takdir. Kadang, aku ingin berkata aku konyol untuk berharap, tetapi di sisi lain aku berharap setidaknya satu saja yang aku sukai juga menatap balik kepadaku.

Ah, mungkin di dunia paralel hidupku tidak monoton seperti ini. Aku dunia lain berhasil lepas dari dilema kesedihan dan berjalan maju dengan kehidupannya. Apa aku bisa juga begitu? Aku ingin sekali. Aku sangat ingin. Hanya saja, apakah ada yang berkenan menyerahkan dua telinga dan mengunci satu mulut selamanya untuk ku? 

Aku rasa tidak ada. Akan tetapi, mungkin mencoba tidak akan buruk, kan? Mungkin UIS hanya seperti yang lainnya, akan terulang kembali bahwa diriku ini hanyalah seorang teman biasa di matanya, tidak lebih. Hanya saja, aku berharap aku berusaha lebih untuk menggapai hatinya. Setidaknya, sekali saja?

Aku akan menyesali semua ini, kan? Apa setidaknya boleh jika dia tidak menganggapku lebih, jangan sampai rajutan pertemanan selama di organisasi dulu hilang? Aku lebih suka relasi yang masih bertahan bahkan setelah semua badai berlalu.

Lagipula, di titik hidupku kini, aku rasa setiap ikatan yang masih ada lebih baik dibandingkan aku harus kesepian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Sekarang?

Years ago, I seek it. Dulu, aku berjuang untuk bisa melewati batas teman, trying to be someone that you consider as dearest. Yes, that's back then. As I said, had it been years ago, I would have straight out say YES out of sheer dumbness, or tenacity, or both. Tabun. I used to be full of desire to get you to acknowledge me, then. Sungguh lucu sekali, I would circumvent and try to just get any chance to meet with you. Aku menginginkan lebih, dulu. But no, it has always been someone else. Someone else get to be your priority, your attention. Berharap lebih adalah kesalahanku, dan aku selalu menganggapnya demikian. Why chase over the skies you cannot reach? I almost burned the entire bridge, truly. Only one more step and I know the entire relationship will turn into nothing more than smoldering ashes in the seas of lost time. You know, had you not talk to me within the short time of me settling my almost 9-years long illusion, perhaps the bridge had been burned completely, as I had wi...

Preparing Anaconda with Tensorflow [ACTUALLY WORKED FOR ME 2024]

Make sure to follow this with perfect order: 1. conda create -n tf_gpu tensorflow-gpu 2. conda activate tf_gpu 3. pip install numpy==1.23.4 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 4. pip install tensorflow-gpu==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 5. pip install tensorflow==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] (You may skip the first two test, but it helps ensure your environment is set up right)   TRIVIA: - There's no 2.11 version of Tensorflow GPU on pip as shown below: ERROR: Could not find a version that satisfies the requirement tensorflow-gpu==2.11 (from versions: 2.5.0, 2.5.1, 2.5.2, 2.5.3, 2.6.0, 2.6.1, 2.6.2, 2.6.3, 2.6.4, 2.6.5, 2.7.0rc0, 2.7.0rc1, 2.7.0, 2.7.1, 2.7.2, 2.7.3, 2.7.4, 2.8.0rc0, 2.8.0rc1, 2.8.0, 2.8.1, 2.8.2, 2.8.3, 2.8.4, 2.9.0rc0, 2.9.0rc1, 2.9.0rc2, 2.9.0, 2.9.1, 2.9.2, 2.9.3, 2.10.0rc0, 2.10.0rc1, 2.10.0rc2, 2.10.0rc3, 2.1...

Prof Ashari, Tangan Dingin Sang Rektor Visioner

Tulisan ini dipersembahkan kepada Prof  Dr Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, IPU,  AEng. yang merupakan rektor ke-12 ITS, periode 2019-2024. Seluruh tulisan ini berupa pandangan saya pribadi, sebagai ucapan terima kasih, meski disajikan seakan penuh kritikan pada bagian awalnya. Pertama saya mengenal nama ini, saya ingat dari salah satu dosen saya sewaktu saya masih menempuh sarjana. Saya lupa persis kapan, tetapi saya diperkenalkan tentang bagaimana visionernya Prof Ashari dan sedikit cuplikan peran beliau membangun Telkom University di Bandung. Ya, sebelum beliau dinobatkan sebagai rektor, saya berpikir bahwa 'apabila beliau jadi, sepertinya akan berpotensi revolusioner, atau bakal agak ekstrem dalam kebijakan'. Bagi saya, itu cukup menarik, tetapi ada ketakutan di benak saya dengan potensi ekstrem kebijakan beliau. Kala beliau dinobatkan sebagai rektor terpilih, Prof Ashari langsung bergerak cepat yang tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat langkah beliau. Saya masih ingat, d...