Langsung ke konten utama

Allah tidak Melupakan Kezaliman

 Sebuah kultum jum'at yang saya dapatkan pada tanggal 1 Januari 2021 dulu. Ini adalah catatan yang saya himpun dari kultum tersebut. Tentunya, saya akui catatan saya jauh dari sempurna, dan kritik serta saran sangat diharapkan.


Bismillah.


Seringkali kita mempertanyakan hal ini: Kenapa orang-orang yang berbuat zalim tidak mendapatkan ujian? Kenapa mereka dimudahkan urusan dunianya? Kenapa mereka terus bermaksiat dan terus berhasil?

Maka, perhatikanlah 4 langkah Allah SWT dalam memberikan hukumannya:

1. Ditangguhkan. Ini adalah tahap pertama, dimana Allah memberikan kita waktu untuk berpikir. Kenapa tidak langsung? Karena jika kezaliman langsung dihukum, maka tidak ada pelajaran yang dapat dipetik. Semisal Allah SWT langsung hukum Fir'aun, maka tidak ada pelajaran yang dapat dipetik dari kezaliman Fir'aun.

2. Istidraj. Ini adalah tahap kedua. Seringkali kita diwanti-wanti untuk berhati-hati jika kita berbuat zalim namun urusan kita tetap dimudahkan. Bisa jadi, itu adalah istidraj.

3. Muslihat. Pada tahap ini, setan bekerja dengan membuat kejahatan itu untuk kebaikan, sehingga orang-orang zalim menjadi tersesat.

4. Hukuman. "Maka kala tibalah hukuman Allah, mata mereka terbelalak."


Bagi yang sedang dizalimi, jangan pernah lupa bahwasanya do'a kalian makbul. Do'a kalian akan langsung diijabah oleh Allah SWT. Sementara bagi yang menzalimi, berhati-hatilah, sungguh do'a orang yang dizalimi akan di dengar langsung oleh Allah SWT.


Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Sekarang?

Years ago, I seek it. Dulu, aku berjuang untuk bisa melewati batas teman, trying to be someone that you consider as dearest. Yes, that's back then. As I said, had it been years ago, I would have straight out say YES out of sheer dumbness, or tenacity, or both. Tabun. I used to be full of desire to get you to acknowledge me, then. Sungguh lucu sekali, I would circumvent and try to just get any chance to meet with you. Aku menginginkan lebih, dulu. But no, it has always been someone else. Someone else get to be your priority, your attention. Berharap lebih adalah kesalahanku, dan aku selalu menganggapnya demikian. Why chase over the skies you cannot reach? I almost burned the entire bridge, truly. Only one more step and I know the entire relationship will turn into nothing more than smoldering ashes in the seas of lost time. You know, had you not talk to me within the short time of me settling my almost 9-years long illusion, perhaps the bridge had been burned completely, as I had wi...

Preparing Anaconda with Tensorflow [ACTUALLY WORKED FOR ME 2024]

Make sure to follow this with perfect order: 1. conda create -n tf_gpu tensorflow-gpu 2. conda activate tf_gpu 3. pip install numpy==1.23.4 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 4. pip install tensorflow-gpu==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 5. pip install tensorflow==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] (You may skip the first two test, but it helps ensure your environment is set up right)   TRIVIA: - There's no 2.11 version of Tensorflow GPU on pip as shown below: ERROR: Could not find a version that satisfies the requirement tensorflow-gpu==2.11 (from versions: 2.5.0, 2.5.1, 2.5.2, 2.5.3, 2.6.0, 2.6.1, 2.6.2, 2.6.3, 2.6.4, 2.6.5, 2.7.0rc0, 2.7.0rc1, 2.7.0, 2.7.1, 2.7.2, 2.7.3, 2.7.4, 2.8.0rc0, 2.8.0rc1, 2.8.0, 2.8.1, 2.8.2, 2.8.3, 2.8.4, 2.9.0rc0, 2.9.0rc1, 2.9.0rc2, 2.9.0, 2.9.1, 2.9.2, 2.9.3, 2.10.0rc0, 2.10.0rc1, 2.10.0rc2, 2.10.0rc3, 2.1...

Prof Ashari, Tangan Dingin Sang Rektor Visioner

Tulisan ini dipersembahkan kepada Prof  Dr Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, IPU,  AEng. yang merupakan rektor ke-12 ITS, periode 2019-2024. Seluruh tulisan ini berupa pandangan saya pribadi, sebagai ucapan terima kasih, meski disajikan seakan penuh kritikan pada bagian awalnya. Pertama saya mengenal nama ini, saya ingat dari salah satu dosen saya sewaktu saya masih menempuh sarjana. Saya lupa persis kapan, tetapi saya diperkenalkan tentang bagaimana visionernya Prof Ashari dan sedikit cuplikan peran beliau membangun Telkom University di Bandung. Ya, sebelum beliau dinobatkan sebagai rektor, saya berpikir bahwa 'apabila beliau jadi, sepertinya akan berpotensi revolusioner, atau bakal agak ekstrem dalam kebijakan'. Bagi saya, itu cukup menarik, tetapi ada ketakutan di benak saya dengan potensi ekstrem kebijakan beliau. Kala beliau dinobatkan sebagai rektor terpilih, Prof Ashari langsung bergerak cepat yang tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat langkah beliau. Saya masih ingat, d...