Langsung ke konten utama

Bahkan Sekarang Mahasiswa Masih Diharapkan

Sore itu tenang seperti biasa. Seorang kakek sedang mengobrol dengan seorang remaja. Namun, obrolan mereka bukanlah tentang hal santai, melainkan hal berat. Hal itu adalah politik.

Kakek itu mengatakan betapa hancurnya tempat dimana kaki mereka berpijak. Pemimpin mereka sebenarnya hanya seorang pion, padahal yang dikerjakannya hanyalah melanjutkan apa yang sebelumnya telah dikerjakan dan hanya perlu menyelesaikan. Bukan, lebih tepatnya menikmati kehidupan dengan foya-foya yang menghanyutkan dengan menggunakan itu sebagai rekayasa. Kaum elit pula membekongi mereka, menutupi segala bentuk aib sang pemimpin. Rakyat dibodohi dan dibuat tidak tahu apa-apa.

Sang remaja hanya menjawab sekenanya, sekaligus mengorek informasi terkait pemerintahan. Ya, dia suka menganalisis politik untuk alasan entah apa. Fame? Money? Atau mungkin sebuah alasan lain?

Namun, yang menarik adalah kalimat dari sang kakek yang mengatakan bahwa mahasiswa bisa memperbaiki keadaan di tempat tersebut, seandainya mereka mau peduli dengan politik di tempat mereka sendiri. Remaja itu termenung, mengingat dirinya yang juga seorang mahasiswa, meski dia mahasiswa tanah seberang. Dia berpikir, mungkin dia perlu menyadarkan kaum mahasiswa bahwasanya pemerintahan di tempat mereka sedang kacau, tapi mereka tidak menyadarinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Sekarang?

Years ago, I seek it. Dulu, aku berjuang untuk bisa melewati batas teman, trying to be someone that you consider as dearest. Yes, that's back then. As I said, had it been years ago, I would have straight out say YES out of sheer dumbness, or tenacity, or both. Tabun. I used to be full of desire to get you to acknowledge me, then. Sungguh lucu sekali, I would circumvent and try to just get any chance to meet with you. Aku menginginkan lebih, dulu. But no, it has always been someone else. Someone else get to be your priority, your attention. Berharap lebih adalah kesalahanku, dan aku selalu menganggapnya demikian. Why chase over the skies you cannot reach? I almost burned the entire bridge, truly. Only one more step and I know the entire relationship will turn into nothing more than smoldering ashes in the seas of lost time. You know, had you not talk to me within the short time of me settling my almost 9-years long illusion, perhaps the bridge had been burned completely, as I had wi...

Tentang Mencari Ilmu (2021)

"Children are natural learners. It's a real achievement to put that particular ability out, or to stifle it. Curiosity is the engine of achievement." - Sir Ken Robinson "Tidak ada pencari ilmu yang tidak merasakan sakit. Bagi mereka, lebih baik itu daripada pahitnya kebodohan."

Preparing Anaconda with Tensorflow [ACTUALLY WORKED FOR ME 2024]

Make sure to follow this with perfect order: 1. conda create -n tf_gpu tensorflow-gpu 2. conda activate tf_gpu 3. pip install numpy==1.23.4 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 4. pip install tensorflow-gpu==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 5. pip install tensorflow==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] (You may skip the first two test, but it helps ensure your environment is set up right)   TRIVIA: - There's no 2.11 version of Tensorflow GPU on pip as shown below: ERROR: Could not find a version that satisfies the requirement tensorflow-gpu==2.11 (from versions: 2.5.0, 2.5.1, 2.5.2, 2.5.3, 2.6.0, 2.6.1, 2.6.2, 2.6.3, 2.6.4, 2.6.5, 2.7.0rc0, 2.7.0rc1, 2.7.0, 2.7.1, 2.7.2, 2.7.3, 2.7.4, 2.8.0rc0, 2.8.0rc1, 2.8.0, 2.8.1, 2.8.2, 2.8.3, 2.8.4, 2.9.0rc0, 2.9.0rc1, 2.9.0rc2, 2.9.0, 2.9.1, 2.9.2, 2.9.3, 2.10.0rc0, 2.10.0rc1, 2.10.0rc2, 2.10.0rc3, 2.1...