Langsung ke konten utama

Game iPhone/iPad - Injustice : Gods Among Us

Hari ini saya akan membahas Injustice : Gods Among Us. Injustice adalah permainan aksi cepat/quick action game. Di Injustice, Anda akan bermain dengan 3 kartu karakter yang bisa ditambah dengan membeli kartu-kartu karakter yang dijual di toko dalam permainan.
Injustice benar-benar gratis, hanya saja ada IAP yang bisa dimatikan lewat setting/pengaturan iPhone/iPad Anda. Untuk Size game ini, beratnya mencapai 800 MB+, jadi pastikan Anda punya Wifi yang cepat dan kuat untuk mempercepat Download.

Download :
App Store
Google Play

Berikut adalah gambaran dasar Injustice :

[1] Pembukaan



Untuk bertempur, Anda memerlukan 3 karakter yang mempunyai energi (gambar petir) yang cukup sesuai syarat pertempuran tersebut.

[2] Pertempuran 



Seperti gambar diatas, dalam permainan ini Anda akan bertempur melawan 3 musuh (khusus bos dan 8 level terakhir (setelah bos Prison Superman), Anda hanya melawan 1 atau 2 musuh yang lebih kuat dari rata-rata).
Dalam bermain, Anda harus bisa mengimbangi menyerang dan bertahan, karena musuh akan menyerang tanpa Anda sadari.
Pertempuran umumnya ditentukan oleh Skill/Kemampuan [yang menggunakan Bar yang ada di bawah layar], karena mereka bisa memotong darah lawan sampai 20x lipat serangan normal, tapi perlu pertimbangan karena Bar itu harus dikumpulkan melalui bertempur.

[3] Toko Permainan



Di toko, ada 3 jenis toko dalam permainan ini, yaitu Toko Booster, Toko Karakter dan Toko Kartu Pembantu (Penambah Darah, Experience, Serangan, dan Energi).

Demikianlah, semoga game ini menarik minat Anda untuk bermain.
Salam Blogger!

Komentar

  1. awal game ngebosenin, tapi kayaknya kalo kartunya udah banyak jadi seru

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar!


Posting Iklan Promosi (kecuali promosi blog) tanpa komentar ke subjek akan dihapus.

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Sekarang?

Years ago, I seek it. Dulu, aku berjuang untuk bisa melewati batas teman, trying to be someone that you consider as dearest. Yes, that's back then. As I said, had it been years ago, I would have straight out say YES out of sheer dumbness, or tenacity, or both. Tabun. I used to be full of desire to get you to acknowledge me, then. Sungguh lucu sekali, I would circumvent and try to just get any chance to meet with you. Aku menginginkan lebih, dulu. But no, it has always been someone else. Someone else get to be your priority, your attention. Berharap lebih adalah kesalahanku, dan aku selalu menganggapnya demikian. Why chase over the skies you cannot reach? I almost burned the entire bridge, truly. Only one more step and I know the entire relationship will turn into nothing more than smoldering ashes in the seas of lost time. You know, had you not talk to me within the short time of me settling my almost 9-years long illusion, perhaps the bridge had been burned completely, as I had wi...

Preparing Anaconda with Tensorflow [ACTUALLY WORKED FOR ME 2024]

Make sure to follow this with perfect order: 1. conda create -n tf_gpu tensorflow-gpu 2. conda activate tf_gpu 3. pip install numpy==1.23.4 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 4. pip install tensorflow-gpu==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 5. pip install tensorflow==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] (You may skip the first two test, but it helps ensure your environment is set up right)   TRIVIA: - There's no 2.11 version of Tensorflow GPU on pip as shown below: ERROR: Could not find a version that satisfies the requirement tensorflow-gpu==2.11 (from versions: 2.5.0, 2.5.1, 2.5.2, 2.5.3, 2.6.0, 2.6.1, 2.6.2, 2.6.3, 2.6.4, 2.6.5, 2.7.0rc0, 2.7.0rc1, 2.7.0, 2.7.1, 2.7.2, 2.7.3, 2.7.4, 2.8.0rc0, 2.8.0rc1, 2.8.0, 2.8.1, 2.8.2, 2.8.3, 2.8.4, 2.9.0rc0, 2.9.0rc1, 2.9.0rc2, 2.9.0, 2.9.1, 2.9.2, 2.9.3, 2.10.0rc0, 2.10.0rc1, 2.10.0rc2, 2.10.0rc3, 2.1...

Prof Ashari, Tangan Dingin Sang Rektor Visioner

Tulisan ini dipersembahkan kepada Prof  Dr Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, IPU,  AEng. yang merupakan rektor ke-12 ITS, periode 2019-2024. Seluruh tulisan ini berupa pandangan saya pribadi, sebagai ucapan terima kasih, meski disajikan seakan penuh kritikan pada bagian awalnya. Pertama saya mengenal nama ini, saya ingat dari salah satu dosen saya sewaktu saya masih menempuh sarjana. Saya lupa persis kapan, tetapi saya diperkenalkan tentang bagaimana visionernya Prof Ashari dan sedikit cuplikan peran beliau membangun Telkom University di Bandung. Ya, sebelum beliau dinobatkan sebagai rektor, saya berpikir bahwa 'apabila beliau jadi, sepertinya akan berpotensi revolusioner, atau bakal agak ekstrem dalam kebijakan'. Bagi saya, itu cukup menarik, tetapi ada ketakutan di benak saya dengan potensi ekstrem kebijakan beliau. Kala beliau dinobatkan sebagai rektor terpilih, Prof Ashari langsung bergerak cepat yang tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat langkah beliau. Saya masih ingat, d...